Revitalisasi Dan Internalisasi Nilai Kearifan Lokal Sunda Dalam Pembentukan Akhlak Generasi Z Di Sman 3 Kuningan
DOI:
https://doi.org/10.59888/insight.v4i1.106Keywords:
kearifan lokal Sunda, pengembangan akhlak moral, generasi zAbstract
Penelitian ini mengkaji revitalisasi kearifan lokal Sunda dalam membentuk karakter moral Generasi Z dalam lingkungan pendidikan SMAN 3 Kuningan. Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, pengaruh budaya asing semakin mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku anak muda. Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi lembaga pendidikan dalam menjaga nilai-nilai moral dan jati diri budaya mahasiswa. Oleh karena itu, mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pendidikan menjadi strategi penting untuk penguatan pendidikan karakter. Kearifan lokal Sunda mengandung nilai-nilai etika seperti kesopanan, gotong royong, menghormati orang tua dan guru, serta kerukunan sosial, yang relevan dengan pengembangan karakter siswa dalam masyarakat kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk kearifan lokal Sunda yang menarik dan diterima oleh Generasi Z, menganalisis integrasi nilai-nilai tersebut dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadis, serta mengeksplorasi strategi revitalisasi kearifan lokal Sunda untuk memperkuat karakter moral siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memberikan pemahaman mendalam tentang proses penerapan nilai-nilai kearifan lokal di lingkungan sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa yang berpartisipasi dalam program yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya Sunda. Temuan tersebut menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal Sunda dengan ajaran Islam tercermin dalam konsep Pancawaluya – cageur, bageur, bener, pinter, dan singer – yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam seperti pelestarian diri, kebaikan, kejujuran, pengejaran ilmu, dan tanggung jawab. Selain itu, filosofi Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh mempromosikan kerja sama, empati, dan saling membimbing. Kegiatan budaya seperti pertunjukan angklung dan gamelan, bersama dengan program Kamis Nyunda yang mendorong penggunaan bahasa Sunda dan pakaian tradisional, memperkuat identitas budaya siswa sekaligus menanamkan nilai-nilai moral dan agama. Temuan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Sunda dapat berfungsi sebagai media yang efektif untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan Islam dalam pendidikan karakter.




